Feb
20

by Jejak Kata Buana

Tidak ada pekerjaan yang paling membahagiakan selain menulis. Menulis tentang apa saja, termasuk menulis sesuatu yang seharusnya tidak perlu untuk ditulis. Tentang orang-orang, benda-benda, malam, siang, kaki, akar, mimpi basah dan seterusnya. Termasuk menulis dengan gaya tulisan apa saja, termasuk dengan gaya penulisan yang aku sendiri tidak mengerti untuk disebutkan sebagai bergaya apa. Sampai suatu ketika, seorang sahabat bertanya apa gaya tulisan favoritmu, sumpah, aku bingung menjawabnya, sehingga dengan spontan aku menjawab saja ‘aku suka gaya dogy style dan atau 69

Dia terperanjat. Dia merapatkan matanya kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Bukankah itu gaya adegan dalam film esek-esek? Tanyanya. Aku pun akhirnya terpingkal-pingkal juga, karena merasa lucu dengan jawabanku sendiri. Namun kemudian aku menjelaskan bahwa ‘menulis adalah juga merupakan persentuhan yang intim dengan sesuatu, dengan peristiwa-peristiwa, orang-orang, benda-benda dan keadaan-keadaan. Menyentuh-intim semua hal itu akan melahirkan kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata. Kau menyebutnya sebagai orgasme ketika menonton-peragakan dogy style dan atau 69, tetapi bagiku melampaui itu adalah pembebasan dan doa’

Selengkapnya baca di sini

Jun
01

*) Kris Bheda Somerpes

Apa yang dapat anda bayangkan jika Gerard Piqué, Xavi, David Villa, Bojan, Busquets, Víctor Valdés, Éric Abidal dan Dani Alves bergoyang ala ‘waka-waka’ Shakira. Jawaban tentu saja kocak dan lucu.

Mengapa tidak, di atas lapangan hijau, Xavi misalnya adalah sosok yang serius. Dia hanya tersenyum dan tertawa ketika dia dan atau kawannya mencetak gol, selebihnya dahinya selalu tampak ‘cemas bergelombang’.

Namun, di atas panggung pada 29 Mei 2011 bertempat di stadion olimpiade Barcelona, ketika Shakira mendendangkan ‘Whenever, Wherever’ justru sang dirigen lapangan itu menjadi yang paling kocak dan lucu.

Kedua tangannya melambai, sambil dengan kedua tungkai setengah terbuka Xavi pun menggoyangkan pinggul dan berwaka-waka ria-ria. Gerard Piqué, David Villa dan bahkan Shakira dibikinnya tertawa.

SELENGKAPNYA BACA DISINI


Mei
30

tenun-ikat-sumbe-timur

*) Kris Bheda Somerpes

Sudah secara turun temurun orang Sumba Timur meyakini hidup ini tidak dilenyapkan. Bahkan di balik kematian, ada kehidupan. Keyakinan tersebut dilukis-sampaikan dalam dan melalui syair “Dulu La Kuraluku Halukulamanumara” (seperti udang itu menjelma di kali, di sungai dan seperti orang-orang dulu yang beragama asli dan juga mereka mengatakan setelah kematian ada kehidupan”.

Selain motif udang, kain tenun ikat Sumba Timur terdapat juga motif buaya dan penyu. Kain tenun ikat yang bermotifkan buaya dan penyu biasanya hanya dipakai oleh raja-raja, lantaran penyu dan buaya merupakan lambang keagungan dan kebesaran dari seorang raja.

SELENGKAPNYA BACA DISINI

Mei
23

Oleh Kris Bheda Somerpes

“Hmmm…ini toh gadis Aceh. Mengagumkan. Cantiknya gadis Aceh ternyata melampaui dari sekedar cantik secara fisik”

Well…mengapa saya mengatakan ‘Cantiknya Gadis Aceh melampaui dari sekedar cantik secara fisik’ jawabannya tunggal yakni karena mereka mengenakan busana muslim dengan jilbab sebagai ‘mahkota-nya’. Apa yang saya maksud dengan ‘busana Muslim dengan jilbab sebagai mahkotanya’ tidak sekedar sebagai kostum dan asesori pelengkap. Tetapi melampaui dari sekedar soal fisik tersebut, busana muslim merupakan gambaran diri, jadi diri dan identitas diri gadis atau perempuan Aceh.

Inilah cirri corak yang membedakan cantiknya gadis dan atau perempuan Aceh dengan cantiknya gadis atau perempuan lain di seantero Nusantara ini. ‘Cantiknya Gadis Aceh’ tidak hanya lantaran pendaran aura natural yang memang benar-benar cantik, tetapi juga karena dan harus ada aura kultural dan lebih dari itu adalah Islami.

Lantaran itu, saya berani berpendapat bahwa gadis Aceh disebut cantik jika dan hanya jika memenuhi syarat ini: yang beradab (moral cultural) dan berakhlak (moral Islami). Dan untuk itu harus diwujud-nyatakan dengan dan dalam berbusana muslim yang santun dengan jilbab sebagai ‘makhkotanya’. Titik, tanpa itu bagaimana mau membuktikan jati diri dalam praksisnya sebagai sebuah kesaksian?

Selengkapnya Baca di Sini

Apr
30

Banyak orang berekasi atas adegan ciuman Pangeran Willian dan istrinya Kate Middleton. Tidak hanya warga Britania Raya yang menyaksikan adegan balcony kiss itu kemudian bereaksi, tetapi juga jutaan pasang mata penduduk dunia. Tanggapan dan atau reaksi pun tumpah ruah.

Beberapa menyebutnya ‘kurang lama’, yang lain menyebutnya ‘romantis dan spontan’ karena dilakukan 2 kali, dan yang lain lagi menyebutnya ‘masa depan yang cerah’.  Setelah membaca gerak dan bahasa tubuh kedua mempelai itu.

Namun ada juga yang hanya diam tidak banyak kata, tidak dapat melukiskan dengan kata-kata, hanya mendesah ‘hmmm…” dan yang lain lagi histeris ‘Oh My God”. Dan ada pula yang bereaksi dengan mencoba membandingkan balcony kiss-nya Pangeran Charles dan Lady Diana, kata mereka yang bereaksi demikian  “Yang sekarang ada tanda-tanda baik, tidak seperti dulu”.

Selengkapnya baca disini